Rabu, Januari 14, 2009
4
Mungkin akhir-akhir ini duniaku cuma ingin memahami pasrah, karena aku dididik untuk terus berusaha. Dalam keluarga tidak pernah mengenal adanya sikap pasrah, kami berkeyakinan “jika kita hanya bersikap seperti itu, apa yang di atas rela menyerahkan rahmatnya kepada kita dengan cuma-cuma, ikhlas kah Dia? Apa nggak malu, hidup dari hanya meminta-minta?”. Aku memang lagi menghayati kata itu, aku lagi diselimuti perkara yang seolah-olah ingin menunjukan kalau

“ini loh, kamu kayaknya harus ubah pendirianmu, motto di atas tidak sepenuhnya benar…dan seterusnya dan seterusnya.”

Maaf aku tidak bisa membeberkannya di sini, namun ada baiknya kalau aku ungkap sisi perkembangan mental dari hal yang selama ini aku pelajari. Kembali ke pasrah, awalnya aku bertindak sesuai dengan keyakinan bahwa tiada apapun yang akan diperoleh sampai kamu yakin dan terus berusaha mengambilnya. Agak berlebihan juga sih dalam nerapinnya. Setiap hal kulalui dengan terus berusaha. Ada sebagian yang suksea, ada juga bagian lain lagi yang gagal. Mungkin yang berhasil bisa kulalui dengan bangga, senang akan puncak yang telah dicapai terutama jika hal itu hasil dari usaha sendiri. Namun bagaimana menyikapi untuk yang gagal?

Masalahnya memang bervariasi, kebanyakan kulalui dengan meninggalkan dan terkubur dengan sendirinya. Tapi banyak juga yang “ah, nanti akan kuperjuangkan lagi kau, nanti!” disimpan untuk selanjutnya jika ada waktu dan bahan pembelajaran untuk hal itu telah siap, akan diusahakan kembali. Alhamdulillah, berdasarkan pengalaman itu semua mengajarkan aku untuk tidak selalu menyesal, toh waktu tidak dapat diputar kembali. Aku juga mencoba untuk tidak berputus asa, walaupun kecewa kadang sering menghampiri. Dengan berkeyakinan seperti itu, berbagi keuntungan mental semacam itu selalu aku dapat, sampai pada titik tertentu kepercayaanku meningkat berkembang… “Setiap masalah selalu ada solusinya, kita cuma diminta untuk menemukannya, ntah itu sendiri, maupun bekerja bersama-sama dengan orang lain.” Hahaha terlihat seperti lebih keren lagi tuh.

Lagi ke pasrah, apakah itu juga solusi? Bisa jadi! Tetep jangan masalahku yang diungkap wes, kita ambil kasus lain saja ya, hehehe

Ada suatu saat di mana, kekuatan manusia tak bisa berbuat banyak. Misalnya, ketika kapal yang ditumpangi manusia tenggelam di tengah lautan luas, karena diterjang ombak yang dahsyat. Ketika itu tak ada lagi yang bisa diperbuat manusia untuk menyelamatkan diri, kecuali pasrah kepada yang Maha Kuat. Mungkin itulah makna pasrah yang lebih tepat, yakni menyerahkan segalanya karena kesadaran akan kelemahan sebagai manusia. Sehebat-hebatnya manusia, akan sampai pada titik di mana ketika dihimpit kesulitan tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali “pasrah” dalam arti “tugas sebagai khalifah” di dunia, yakni menjalankan proses kehidupan sudah selesai dilakukan, akan tetapi “Yang Maha Menentukan” punya rencana lain.



Ada lagi kasus lain,

pasrah mungkin adanya diujung penghabisan kemampuan manusia. Tentang sa’i, Siti Hajar, beliau tidak pasrah menunggu mati kehausan. kalau mengikuti akal sehat yang mengetahui sumber air terdekat puluhan bahkan ratusan kilometer pastinya akan diam menunggu siapa tahu ada yang datang atau mati tanpa usaha sedikitpun tapi Siti Hajar memilih untuk terus berusaha walaupun secara tidak masuk akal. mau pergi ke arah mata air yang jauh. bagaimana atuh Nabi Ismail AS. yang masih bayi. ditinggal bahaya. dibawa juga bahaya. Akhirnya berjalan, berlari-lari. bolak balik dalam kepasrahan, keterbatasan seorang wanita sekaligus seorang ibu.



Apa sobat bisa mendapatkan kesimpulan dari kasus di bawah ini? Sederhana namun sangat banyak sekali ditemui.
"Aku sekarang pokoknya pasrah banget. Kalau aku lagi nggak tahu harus ngapain, aku pasrah banget. Di tempat kerja uang makan siang jatah dari rumah yang cuma segitunya, itu saja mestinya masih dipakai buat jajan anak, juga kebutuhan keluarga yang sangat mendesak lainnya. E... ini kok malah datang orang minta bantuan uang untuk dirinya yang juga belum makan siang, tak seperti biasanya dan aku juga masih belum lapar, aku kasih saja uang itu kepadanya. Gak mikir panjang lagi." rekan kerja mengawali cerita, mungkin masih lebih jauh levelnya di bawah saya, pada suatu siang.

"Eh, tanpa aku duga sebelumnya ketika kembali dari bekerja, tiba-tiba saja aku dimintai bantuan ringan dan aku dibayar lebih dari yang seharusnya, tiba-tiba saja juga ada saudara maen ke rumah, pulangnya tumben memberi uang sangu untukku. Ada beberapa kejadian lagi yang lagi-lagi aku mendapat uang dari itu. Kalo diitung-itung jumlahnya lebih dari uang makan yang saya kasih ke orang itu, kata orang sih, bisa sampai 10X lipat, tapi ga tahu juga sih males ngitungnya"…

Kasus-kasus yang mirip dengan kasus terakhir tersebut, sempat menggoyahkan pemahamanku tentang makna berusaha sebaik-baiknya. Namun dalam perkembangannya, hal yang seperti itu malah menjadi pendukung terbaik untuk semua penerapan solusiku. Aku bisa lebih bijaksana, bias lebih mengerti arti hidup dan yang lebih lagi, aku bisa lebih tenang menghadapi kasus menimpaku saat ini.

Pasrah, bukan hal yang digunakan untuk terus berputus asa dalam menyikapi sesuatu, tetapi untuk lebih mengerti mengapa ini mesti dilakukan. Adalah untuk memahami, hanya bersama Dia, kita mampu untuk maju. Sampai saat ini, masih terus aku pelajari, semoga dapat menjadi bahan masukan sebagai pertimbangan sobat-sobat yang masih bingung untuk urusan itu. Terima kasih telah bersedia membacanya.

4 comments:

  1. pasrah merupakan awal kegagalan tapi semua tidak kepasrahan berarti kegagalan ya :)

    BalasHapus
  2. trimakasih guru sudah mao berkunjung ke blogku jangan ngomongin gagal ah, kluarnya cuma sekali, berpengaruh juga ni hehehehe

    BalasHapus
  3. Sophieana@ymail.co.id1 Februari 2009 10.30

    Emm....numpang lewat yach,
    kembali ke kata"pasrah" dulu deh,pasrah kan artinya berserah diri padaNya atau lebih praktisnya"tawakkal"lah..........
    hsetahuku sih pasrah itu keluar setelah adanya ikhtiar kita yang berkepanjangan dan Dia akan memberi jawaban sesuai dengan seberapa gigih kita menjalankan ikhtiar.itu udah janjiNya lo....
    So,kayaknya g tepat banget kalau belum usaha apapun kita udah ngluarin kata pasrah.

    BalasHapus
  4. pengumuman!
    yayank aku komentar tuh!
    hehehe senengnya...

    semangat-semangat!

    BalasHapus

Alhamdulillah jadi juga satu artikel lagi. Buat yang penasaran pengen komeng. Jangan ke sini. Tapi kalau penasaran pengen komen, yuk mari...

 
//add jQuery library