Warung Bakso di Tegal Lewat SDI


Mungkin postingannya masih kalah jauh dari web-web piknikan yang isinya mengupas semua tempat-tempat wisata di berbagai daerah seluruh indonesia. Kalo, tiap judul diupdate dipasangin widget ini, bakal banyak sekali posting yang dimuat. Lomba yang diselenggarai sama PT. S D Indonesia mensyaratkan banyak-banyakan artikel gak yah? kalo, iya. Mereka pasti menang! 1 poin koreksi nih, syarat kurang begitu jelas. Sisi untungnya, tukang tulis asal nulis bisa aja, tapi jadi gak terarah. Tak pake nilai untungnya aja deh, menulis bebas, tapi suerrr! gak asal lho. Mikirnya aja sampe mumet. Okelah, monggoh dibaca yah...


Untuk menengah ke bawah ni. Aku mo mengulas tentang tempat makan baksoku di Tegal, kampung halamanku. hehehe... Yang mana yang bener-bener dalam harapanku enak, gak mengkhawatirkan dan murah! Letaknya di tepi jalan Werkudoro depan Pasar Langon, dekat minimarket Kita. Bisa sobat liat pada foto di atas ini.

Enaknya, Sobat-sobit bisa bayangin, bakso super yang isi telor, bisa satu telor ayam negeri rebus masuk! Hmm... yang jelas kalo aku makan yang versi ini sistemnya agak laen, (masih sobit bayangin loh). Bayangkan, coba diabisin dulu segala macem kelengkapan di mangkuknya sisain kuahnya. Nah, pas dalam kondisi gitu, kan udah gak panas lagi tuh. Nah, perlahan buka si baksonya dikit-dikit. Slice kulit bakso sampe kliatan putih telurnya. Anda akan liat asap panas keluar lagi di dalem bakso itu. Nah, mulai deh maem dalemnya (telornya, red.) dikit-dikit. Nikmati panas bakso seperti kita waktu makan pertama tadi. Kondisi yang sama bakal lebih seru lagi pas kita iris, dapet kuning telurnya... hmmm panasnya lebih nendang! Padahal proses makan udah hampir ke level finish. Intinya, Segernya dari awal sampe akhir, Jek!!

Kalo buat yang gak mengkawatirkannya, ni jadi jatah istri untuk menjelasken. Istri itu mirip badan POM nya indonesia, pengkritisi makanan terbaik. Dia mampu untuk menilai masakan laik makan atau tidak. Orangnya agak sensitif dengan makanan yang bikin penyakit, jadi makan dikit, ada ini, mual. Kelebihan penyedap, Muntah. de el-el wes. Mampir sini, "gak enak, ada penyedapnya!", mandeg bentar ke rumah makan agak besar dikit, "Uh, jangan ke sini lagi! Banyak pewarnanya. Terus coba di lesehan agak jauh dikit, "Beh! pengawetnya, Men!!!". Baru di warung Bakso ini dia bilang, "Enak, Mas!". Emang ada warung Bakso lain sih, yang sama-sama enak. Namun kurang nyaman pada pertimbangan ketiga.

Pertimbangan terakhir. Sedikit saja. 1 porsi gak sampai goceng! Hm... emang maeman murah, kan dari awal aku udah ngomong kalo ini untuk menengah ke bawah. Ya jangan dibandingin dengan highclass donk. Yang cuma ngemil bakso sa-uprit bisa sampe lima puluh ribuan. Hehe Kalo di sini jangan kuatir, semangkuk full dehhh. Pas buat anak kost. Jadi buat anak UI, kost di Tegal aja, yar deket ma warung bakso ini. Khan bisa hemat.

Poin kedua untuk koreksi lomba. Yah, lagi-lagi nih, Tukang kritik. Isi tulisan mo kayak gimana? penekanan ke lokasi warung atau deskripsi makanan. Kalo ditekankan ke penjelasan titik lokasi. Yah, aku kalah lagi deh. Coz, malah ngelantur ke deskripsi makanan. Yah, SDI kurang jelas di syarat lombanya si, hehehe


Coba kasih masukan sedikit buat
S D Indonesia (Streetdirectory Indonesia)

Bapak-bapak, Ibu-ibu, maapin sebelumnya kalo di sini aku salah ucap. Sensitif soalnya. Gak sekedar ngikut lomba, Pak. Aku 3 hari kemarin hampir beberapa jam surfing mempelajari Web SDI. Bukan apa-apa, kali aja aku butuh ini di lain hari.
1. Waktu aku buka link "choose a district" di bawah label jawa tengah, kenapa muncul seperti gambar ini. Kayaknya SDI udah mulai berumur kan? Eni aja udah even kedua. Mungkin lebih sering update akan lebih terlihat kompeten webnya. Jangan kalah sama Google Earth, dia masih update 1 tahunan sekali loh.

2. Bisa gak, kalo tampilan widget yang wajib dipasang sebagai persyaratan event ini memiliki banyak pilihan lagi? Seperti ada border tambahan untuk memperindah widget. Atau pemilihan rounded (sudut berupa lengkungan) menghaluskan kesan kaku widget.

3. Sekali lagi, maaf merepotkan. Bisa gak kalo legenda pada widget diperlengkap. Widget yang sudah ada sepertinya cuma kotak peta, terus tulian Streetdirectory di pojok kiri bawah dan arah mata angin di pojok kanan bawah. Dirasa ada yang kurang. Judul Map tidak dimunculkan. Orang mungkin akan bertanya, "Ini peta untuk menunjukkan apa?" Ke depan aku berencana menampilkan lokasi rumah menggunakan Streetdirectory pada kolom site infoku. Bukan apa-apa, tampilan widgetnya cukup keren. Bisa dizoom, jadi terlihat lebih detail. Jadi bukan cuma untuk event artikel ini.

Ah, sudahlah sekedar kritik dan permintaan saja. Jangan dibikin mumet ya, Pak-Bu SDI. Sekali lagi Maap kalo masukan agak kurang berkenan. Selebihnya aku ingatin lagi. Om dan Bibi SDI itu si Naga suruh kirim hadiah ke rumahku ya, ikuti peta di bawah ini. Hehehehe....

Read more.....

Belanja, Pusing dan Lapar!

daftar belanja Halah, baru berkeliling sebentar mengantar calon beli seserahan malah migrenku kumat. Mengaku saja daripada semaput di tengah NICO, 'ngisin-isini'. Dia juga bakal panik ditambah tubuhnya yang seuprit, mungil begitu dipaksa mapah badan segede begini. Ah, bakal susah kalau mikir akan serumit itu. Sekali lagi. Mending ngaku, "Nok, Mas mumet separo..." Ya sudah, Mas duduk saja dulu, biar aku yang mutar. Nanti kalau sudah semua, Mas kupanggil. Hmm.. alhamdulillah sekali dapat yang seperti ini. Pengertian. Sebenarnya masih banyak hal yang mengarah ke kata itu selain kasus ini. Tapi gak kuungkap lah, malas, ntar jadi beda tema.

Alhasil, aku cuma duduk saja di area istirahat pengunjung. Letaknya cukup strategis. Di samping kiri tangga manual yang agak lebar. Mengarah ke pas di depanku bazar baju murah. Di belakangku void. Pandangan ke bawah ada lagi bazar baju anak. Suasananya cukup ramai. Makin pusing kalau kupaksakan menikmati keadaan. Riuh ramai costumer makin menguat saja. Kubungkukkan saja mata ini fokus untuk artikel baru dari hape. Menyandar juga percuma. Gak ada sandarannya, cuma railing tepi lantai dari plastrip baja. Sakit buat punggung. Tidak apa-apa. Duduk ini cukup kok. Masih belum datang ayangku.

Masih sibuk dia. Seharusnya itu aku yang belanja. Tapi aku tak tahu apa yang dibeli. Dapat daftar belanja dibantu ibu. Dapat alasan lagi, "Ntar kubelanjakan malah kurang cocok sama ukuran tunangan". Ah, ngajak dia aja, biar milih sendiri kan pas. Niatnya ingin membantu. Tapi ini migrenku belum beres dari kemarin dari kedatanganku di Jember, kota calon tercinta ini. Ayangku sudah datang. Tugasku untuk membayar sudah datang. Tapi... lagi-lagi, "Neng, ini dompetnya. Bawa semua saja. Mas di sini saja, ya.".

Dianya cuma mengambil beberapa lembar, kembalikan dompet lalu ke kasir. Laporannya, baru dapat dua item. Hah? Dari belasan baru dua. Hmm... terus aku kira bisa nyantai kembali, ternyata beberapa saat dia balik lagi. Mas, sini. Pilihkan keranjang yang nanti buat bungkus! Halah nengku ini. Peyut sudah keroncongan juga, nih! Ditarik ke tempat daleman juga. Tapi sudah gak fokus. Tolong!

credit pic: http://www.jonru.net
Read more.....

Cerita di Kampung Kumuh Pinggir Kota

kumuh, jurang kaya dan miskin terlihat jelas Tetangga sebelahku membeli radio! Hanya bekasan. Boksnya saja sudah banyak selotip. Malah skrupnya pada hilang. Aku tahu dengan merabanya. Kalian tahu, kan? Kalau aku itu buta. Alhamdulillah sudah ikut merasakan radio itu seperti apa.

Haha... orang kayak aku bisa mikir rumit juga. Setelah tahu ada penghibur telinga, indera milikku yang haus info itu, aku langsung berpikiran merombak tatanan gubukku. Tempat tinggal ini masih satu satuan dengan tetangga kanan-kiri. Bukan satu rumah, tapi sekatnya hanya satu, sekat anyam bambu saja, tak berangkap seperti dua rumah yang berimpit. Intinya, suara masih bisa tembus, dan aku bisa ikut menikmati acara radio.

Malam hari. Pertama, repotnya batas rumah empu radio, Adnan, denganku masih di antarakan toiletku. Suaranya jadi teredam. Mesti kupindah. Kolam yang aslinya cuma satu ember sedang, gampang kupindah. Malam bertambah. Agak sulit memindah batas kamar mandi, anyaman juga. cuma dikawat saja, bisa deh. Keduanya... Lah, geser tempat tidurnya? Hmm.. (mulai mikir melambat) sambil rebahan... Bisa! Batas KM dikeluarkan dulu, Geser tempat tidur, baru batasnya kupasang. Bisa deh.

"Ini ke sini, yang itu ke situ. Terus kawat, penguat batasnya, diperbanyak.. darimana bisa kudapat, ah ntar... terus tempat... bla bla bla", gumamanku makin tak karuan, telunjuk coba menunjuk khayalan yang tercipta. Gelapku sedari kecil terlupa. Semua terang.. hanya karena memimpikan kenyamanan mendengar radio di gubuk kumuh ini. Malam kian larut. Aku masih disibukkan dengan agenda pagi besok. Aku mau mencoba sibuk. Namun pikiran mulai menumbuk sesuatu. Itu kamar mandi, saluran gotnya? Yang lama dibuatkan Mas Adnan sendiri untuk gubuknya, aku ikut nimbrung menyabang sedikit. Susah, dari campuran semen! Mikir lebih lama, kepentok lagi, bau got juga bakal lebih menyengat. Malah tambah tak nyaman. Terus buat makan besok? Mau puasa? Cuma bisa kudapat dari mengemis terus mau libur? Otakku makin penuh. Pusing. Akhirnya tertidur.

Paginya, aku langsung saja memohon ke mas Adnan. "Mas, tidak apa-apa radionya diputar lebih keras, aku tak merasa terganggu, malah berterima kasih Mas sudah berbagi."

credit picture: http://exmariomartin.blogspot.com/
Read more.....

Anak, di Balik Perpisahan

korban perceraian Cerita perceraian selalu saja menimbulkan efek yang mungkin baru bisa kita rasakan dengan jelas setelah lama berlalu. Hmm... terutama pengaruhnya dalam tumbuh kembang anak. Kedengarannya miris. Tapi itulah yang terjadi. Kapan ya, orang bisa mulai belajar untuk menghilangkan satu jalan "terbaik" pemecahan masalah rumah tangga ini?
Dengar berita terbaru anak pedangdut yang dahulu sempat tak diakui ibunya akhirnya dia balas tak mengakui sang ibu dan berjanji akan selamanya ikut dengan ayahnya? Sekarang tiba-tiba saja dia, si anak ini, telah berada dalam pelukan ibu seolah tak pernah ada peristiwa yang lalu. Siapa dia? Tebak saja sendiri. Yang jelas ada yang menarik dari yang terjadi itu.

Kasih sayang kedua orang tua takkan pernah pupus oleh apapun. Setidaknya sampai saat ini. Alasan si anak sangat sederhana, terlalu dikekang bapaknya. Merasa tak bebas. Haha berita tadi sore menegaskan, ibunya jadi membebaskan. Alasan sang bapak kuatir anak itu terjerumus jadi membuat begitu banyak peraturan yang memang membuat anaknya terkungkung. Jadi agak kurang bijak, karena sikap otoriternya yang dominan. Bapak itu akhirnya pasrah. "Jika kamu lebih bahagia bersama ibumu, pergilah, cari kebahagiaanmu" (gak persis begitu ngomongnya, tapi lumayan cukup mewakili deh, hehe). Ibunya, aku yakin sekali, memperlakukannya dengan bebas karena tak mau kehilangan untuk kedua kali. Ini juga kurang bisa dibenarkan. Terlalu memanjakan tidak baik.

Hmm... mudah-mudahan saja kedua orang tua ini tidak dipermainkan terlalu lama. Bisa saja seperti ini, "Masa ibu melarangku naik gunung?! Aku mau ke ayah saja. Pasti dia mengijinkan!". Kalau ibunya mengalah, dianya semakin menjadi atau kalau bersikeras melarang. Anak itu pergi meninggalkannya, balik ke bapaknya 'cari perlindungan'. Akan berulang terus begitu.

Walaupun telah berpisah, mendidik anak tak perlu saling bertolak pinggang, kan? Masalah lama antar ayah ibu apa tidak bisa dikesampingkan demi pertumbuhan anak? Toh DIA menitipkannya untuk kalian berdua, bersama. Tidak ada salahnya kalian juga bersama merawatnya. Kalau sudah tak mungkin bersatu lagi. Tetaplah saling berkomunikasi demi pertumbuhan si anak. Buat mereka nyaman di manapun berada... dan seterusnya.

Hehe maaf terlalu menggurui. Untuk renungan.
Read more.....

Di Sana, Renungan

renungan Di sana mungkin ada api
lidahnya menyambar-nyambar penuh arti yang aku tahu paling-paling dia berkata,
"Sana pergi! atau mau terbakar?" Agak menepi, juga masih di sana air
mereka menawarkan janji,
"jikalau aku kau pelihara,
aku bisa jernih mengalir mereda dahaga"


Masih jauh di sana di sudutnya
angin menggoyang pohon dan lalu menumbang
"aku bisa beginikan semuanya, perbanyaklah
aku akan capai urusnya, kau bisa selamat"


air menimpali dengan agak iri,
"aku bisa longsorkan dan kau mati,
jadi berbaiklah hehehe...
benar angin, perbanyaklah yang berranting itu."

"masih bisa kubakar! hahah
mentari dan juga kau, angin pasti membantuku
kecuali engkau, malah membelanya,
mengguyur yang kubara"


Renunganku merambah mereka
sepertinya mengajariku sesuatu
kumpulan daun berangkai itu pasti temanku
perbanyak dan hijaukan dunia

terimakasih air, api, angin
untuk hutanku...
Read more.....