Gambaran Sepi

Image and video hosting by TinyPicLagi duduk di CFC. 'Bukan Cuma Ayam', dari yang kulihat sepintas di bawah cfc-nya. Haha.. sering jadi bahan gurauanku bersama teman kalau sedang ngumpul, "Apa sih, kepanjangan CFC?", ya itu tadi, hehe. Sudahlah, yang penting aku sedang duduk di situ. Satu lagi gambar aku pajang lewat ponsel hasil jepretanku baru tadi.

Gambaran sepi Mall di pagi hari. Percaya tidak percaya ternyata baru kusadari tiap kali aku buka pintu, akulah yang pertama kali menginjakan kaki ke dalam Mall. Hehe untuk melegakan hati saja, yang punya Mall malah jarang seperti aku. Hmm...

Ini gambar kedua yang kupajang di blogku. Langsung kumasukkan melalui HP. Belum tahu sampai sekarang, hasilnya seperti apa kalau dibrows dari komputer. Masih belum semangat ngenet lagi. Tapi semoga saja tidak terlalu jelek. Kalau jelek pun takkan aku edit lagi. Aku gunakan sebagai pengingat saja.

Itu gambar sepinya Mall, belum pernah pada ngerasain rasanya masuk Mall yang masih sepi kan? Itu menggambarkan sebuah lorong panjang dari Mallku yang kalau Mall mulai buka justru lorong itu merupakan jalur utama pengunjung. Kalian bisa bayang lorong yang ramai yang penuh sesak, yang untuk jalan saja susah setengah mati. Semuanya sering terjadi di lorong sepi ini.
Read more.....

Belajar Deskripsi Lagi

Image and video hosting by TinyPic

Ingin belajar deskripsi dari gambar di atas, coba-coba. Semoga bisa bermanfaat.

Itu meja yang ada di depanku saat ini. Di dalam sebuah ruangan sempit, ruang standbye operator genset. Meja rapi menurut ukuran mereka. Ada telepon, khusus untuk intern saja, kalau kalian mau tahu nomor extensinya, 601. Hehe

Meja. Sebuah hal yang bisa mencerminkan sisi tak terbentuk dari si empunya, Teknisi. Padahal itu meja bekas. Rangka kayunya saja sudah rapuh. Tapi karena atasnya di gelar alucobon, penutup tepi-tepi eskalator, akhirnya menjadi sedikit lebih mewah, walau kesan kumuh juga masih terasa.

Ada tumpukan buku-buku besar dan sebagiannya kecil. Itu data harian kerja mereka. Yang sudah habis masih ditumpuk jadi terlihat banyak, ruang tulis makin sempit. Yang menarik, buku lama masuk tas plastik yang seharusnya untuk diisi alat-alat agar bisa dibawa ke mana-mana. Tapi... haha ada-ada saja. Ada Map place, khusus lembar-lembar surat antar bagian.

Kalender duduk khas lelaki. Di dapat dari pembagian secara gratis dari supplier. Sebetulnya masih ada yang bagus seperti pemandangan, atau gambar traktor. Kali ini gambarnya wanita seksi dengan memamerkan barang dagangannya, bra dan CD. Kalau bisa didetail, anda sekalian pasti tersenyum. Ada bagian tubuh yang sudah dicoret-coret. Jangan disebut di sini ah, kalian liat sendiri di pangkal paha dan udel. Hehehe

Kalau foto di atas gambarnya sudah termasuk laci meja. Percuma saja. Jelek, memalukan.

Meja, lusuh yang rapi di antara asesoris lain ruang stanbye, cukup melengkapi kesempitan yang nyata.
Read more.....

Kalimat Rancu Yang Menggoda

Tidak bisa dipungkiri. Munculnya kalimat rancu kadang atau malah kebanyakan tidak disengaja. Hadirnya bisa membawa perkara bisa juga memberi hiburan yang segar. Inspirasi pun bisa terlahir.

Kalimat rancu, kalau boleh aku artikan adalah kalimat yang bisa memiliki arti yang lain, melebihi atau mungkin di luar yang pelontar kalimat maksudkan. Kalimat ini tidak pasti, karena muncul lebih dari satu maksud. Berikut ini beberapa contoh kalimat-kalimat rancu:

..dari soundtracknya, Si Mamat Anak Pasar Jangkrik, TPI

Mamat emang anak Betawi asli, tapi paling anti ame korupsi...


Hehe, kalau aku boleh plesetin, "Oh, orang Betawi pada doyan korupsi toh, nah tuh, yang paling anti cuma Mamat.". Haha, untung ada kata 'paling'nya. Jadi masih bisa diartikan begini, yang lain anti korupsi, tapi Mamat yang paling anti.

Yang ramai kemarin. Pidato SBY hal penanganan Bibit-Candra, kira-kira begini,

..penanganan kasus ini agar bisa diselesaikan seadil-adilnya untuk semua pihak.. dst.


Gara-gara ini, yang tersandung persoalan 'Mafia Kasus' jadi merengek minta ikut selesai. Kalau diteruskan, jadi tidak adil katanya. Hahaha orang-orang hebat di sana pada pintar cari benarnya sendiri.

Yang dua setelah ini cuma selingan saja, hehe cukup mengundang senyum.
Waktu ikut proyek kecil renovasi salah satu area di Mallku. Secara tidak sadar aku ngomong begini,
"itu areanya masih kotor, banyak beling di sana-sini, kalau mau ngaduk (membuat campuran dari semen dan pasir, red), pakai sepatu bootnya.


Sontak semua tertawa, salah satu nyeletuk, "Baru tau kalau boot bisa buat ngaduk, Mas."

Baru saja, sewaktu antar ibu, ngobrol mengenai kehidupan remaja jaman sekarang. Ibu bilang begini,

.."Payah, ya. Sekarang pria dan wanita susah dibedakan. Pria rambutnya dipanjangkan pada pakai anting. Yang wanita malah pakai celana, tidak pakai apa-apa."


"Hihi, emang cewek cuma pakai celana saja ya?", gumamku. Yah, maksudnya pasti seperti ini, wanita sekarang kurang feminim. Betah bercelana, minim asesoris wanita kayak anting, lipstik, dan lain-lain.

Sudah ah, limit karakter nih. Hehehe Read more.....

Celotehan 'Mbingungi'

Terus kapan aku mau sadari diri? Seolah-olah aku sedang mati suri. Tapi infus masih saja jalan. Aku juga masih bisa mendengar sudah lumayan banyak botol yang jadi asupan giziku untuk hidup. Tapi masa aku mau terus seperti itu? Jangankan bangun. Membuka mata saja setengah mati. Juga gerakkan tangan atau kaki. Aku payah, mulai kapan yah harus mulai sadar?

Kalau aku sadar lagi mungkin aku malu. Aku masih jelas mendengar yang disekelilingku. Bahkan untuk yang sekedar bereaksi ringan. Dari wajah, guratan hati tak bisa ditutupi. Sempat terlihat seperti sedang bersedih jika kalau mendengar obrolan duka beberapa pembesuk. Atau marah jika istriku sedang digoda tamu pria rumah sakit. Hihi ada yang lucu. Gak cuma lewat wajah, bagian tubuh yang lain juga. Hihihi aku kan lagi setengah mati. Jadi untuk pipis aja harus dibantu. Hehe kalau sudah dibantu istri, biar lagi rame, pasti bangunnya tuh. Walah!

Sering aku dengar. Dia sering menangis di sepi kamar. Itu sambil memelukku. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi dia tetap berusaha diam, seakan tahu aku akan tahu walau dalam kondisi begini.

Aku Irham, sudah hampir dua bulan berbaring di kasur RS ekonomi yang bagi kami harganya masih mencekik. Sekarang hanya untuk pengobatanku saja sudah makan banyak biaya. Istri cuma penjual nasi keliling lauk kerupuk saja. Anak, sudah kami patuhi untuk berKB, tapi karena masih kecil tetap jadi beban juga, walau kami akui, alhamdulillah, kami merasa terhibur memiliki mereka. Aku harus sadar! Tapi...

Di hidup di dalam sini lebih enak, aku bisa melayang-layang terbang tinggi. Di bawahnya tampak sungai dengan jernih air sungguh menyegarkan. Tawa ceria bidadari hanya untukku. Mereka siap melayaniku. Ini kadang berasa mimpi, tapi sungguh, aku benar-benar bahagia. Jangan harap bisa berulang lagi kalau kupilih dunia nyata. Tetapi...

Ah, betapa sulitnya hidup begini. Kadang jika aku lagi bergurau dengan salah satunya, terlintas tangis belah jiwa meratapiku. Mending mati saja, terus bisa jadi alasan, aku ingin kembali tapi tak bisa. Tapi... ah!

Aku yang tidak hidup, juga tidak mati, masih belum bisa juga beri keputusan berarti. Di sela penderitaan yang lain olehku, masih kubimbangi dengan 'mimpi'ku. Mestinya aku harus sadar. Dan bangun.

Tulisan untuk pengejar mimpi yang bimbang. Maaf.






Read more.....

Gerutuku Untuk Mereka

Aku Rio. Pengemis tua buta yang dulu itu. Ini lagi beranjak dari rumah di sudut di ujung gang. Sekarang aku mau melewati gangnya. Gang itu sempit, satu meteran lah lebarnya, aku tahu karena bisa kubaca dari rentangan tanganku yang sampai di kedua sisinya. Selasar itu bukan jalur sempit oleh rumah yang berhadapan. Namun lorong dari rumah yang berjajar. Berhubung seperti itu, kukalungkan seperti samurai, tongkatku. Kuraba merambat maju di dinding salah satu rumah dengan kedua tanganku. Sampai kudengar dari jendela yang kurabai..

Metro TV lagi doyan menampilkan para petinggi negeri ini. Wapres dan Menteri. Dari jendela sayup ekonom merepet mengemukakan pendapatnya. KSSK cuma beranggotakan dua orang saja? Weleh-weleh. Itu pembicara ngomongnya bener gak, ya? Hmm... kudekatkan saja kupingku di jendela kaca itu. Kalau yang kutempel mataku juga percuma.

Iya, dua orang itu dalam satu komite. Setauku, badan aja ada macam-macam, minimal 4. Kepala... pundak lutut kaki lutut kaki..., halah malah nyanyi... Lah ini cuma dua. Ada apa gerangan? Gerutuku terasa keras sampai nyonya pemirsa tivi di dalam sana cekikikan. Sepintar terdengar lalu seperti tertahan. Selanjutnya volume TV diperkeras, mungkin ingin membantuku, atau malah untuk menutupi ngikiknya gara-gara melihat tingkahku. Terserah saja. Apa peduliku? Lagipula aku merasa terbantu kok. Karena itu juga aku cuma menyandar di dinding lainnya tanpa menempel kuping lagi. Alhamdulillah.

Kuteruskan saja menyimak suara Metro itu. Sampai ujung kalimat, si ekonom itu menghibau kepada Pak SBY sedikit mengancam.. kira-kira begini, "Kalau sampai Bapak tak bisa lebih tegas terhadap bawahannya. Pertumbuhan ekonomi bakal makin memburuk.", tak sengaja keluar umpatan dari mulutku, Huh! Apa-apaan ini?! Gak ada kerjaan lain selain saling menyalahkan? Huh, bagaimana mau ngurusi aku!?!".

Tawa tertahan mulai kedengaran lagi. Nampaknya persis di balik jendela. Aku masih bisa bersyukur tidak dicurigai sebagai maling yang sedang mengintai keadaan rumah lewat jendela. Karena aku buta. Bisa kalian lihat tidak nampak kelopak mata satupun di tempat mata umumnya berada. Jadi jelas bukan pengemis penipu. Sambil beranjak pergi, dengan meraba lagi. Masih sempat terdengar luap emosi tertahan sang penyanggah Ekonom. "Anda siapa? Tokoh penting juga bukan, kok datang main perintah, seperti komandan saja.". Aku cuma tersenyum, ada lagi ternyata, orang yang sama.
Read more.....