Hah! Hhhaah! Coba kudahakkan tenggorokanku seperti ada yang mengganjal. Buat menelan juga susah. Pergantian waktu kali ini lain. Pancaroba sedang terjadi. Penyakit musiman kadang datang mendera. Bukan kadang, buatku. Tapi pasti terjadi padaku. Aku terkena radang tenggorokan. Ciri-cirinya sudah kuhafal. Yang mengganjal tadi. Terus panas dalam. Bibir juga jadi tidak seksi karena pecah-pecah. Sariawan sudah, kemarin-kemarin. Hampir satu bulan gak sembuh-sembuh. Lah, orang tempat sariawannya strategis kok. Diantara gigi dan bibir bagian depan agak menyamping. Jadi bagaimana mau cepat sembuh, orang beradu mesra dengan gigi begitu. Kering sedikit, makan kecil kegesek gigi... kambuh lagi.
Oh iya, soal makan, sempat 2-3 hari terasa hambar. Makanan favorit, Indomie goreng yang biasanya satu bungkus habis dengan dua porsi nasi. Ini, setengahnya saja sudah kudu kupaksakan masuk mulut. Acara muntah tak terjadi. Biar suka menyibukkan diri aku termasuk yang makan taat jadwal loh, jadi Alhamdulillah lambung belum kena, yang maag yang sakit perut jarang kualami. Apalagi sampai muntah. Yang sering malah migren. Sering banget. Diobati dengan tidur jarang manjur. Bangun-bangun senut-senut lagi. Sering diobati memakai obat yang ramai di pasaran. Bisa sembuh tapi... aku mulai ketularan yayangku yang selalu memakai pengobatan tradisional. Walau belum tahu yang paling efektif dan bagus itu yang mana, pemakaian obat-obatan kimia itu mulai kukurangi. Kudengar ada salah satu obat sakit kepala yang dalam jangka panjang bisa menyerang sistim syaraf. Ngeri, kan?
Hehe soal obat herbal. Aku belajar sama Shofi. Dia lebih tahu banyak. Ibu bapaknya, juga banyak temannya yang mengajari. Ada obat mata dengan bahan madu. Kiriman dari yayang, katanya cuma ada di negerinya, eh kotanya. Itu jadi favoritku kalau mataku sakit. Perih banget. Juga agak lengket di mata. Tapi cespleng! Hehe.
Eh, ngomong-ngomong soal mati. Aku lagi sedih nih. Shofi lagi sakit mata. Bukan yang merah-merah begitu. Kambuhnya kalau sudah dipakai untuk membaca. Sakit, bikin pusing kepala. Aku kuatir kualitas matanya sudah berkurang. Perlu dibantu pakai kacamata. Sebenarnya tidak masalah. Tetap cantik. Cuma ya itu, sayang sekali kalau menjadi tak maksimal. Bismillah, semoga cepat sembuh ya, Nok Ayu. Kuatir sama Nok yang jauh di sana ditambah sedikit gejala sakit radang tenggorokan, cukup buat sangu berangkat kerjaku pagi ini. Alhamdulillah.
Read more.....
Aku dan Pancaroba
Pelukisan Situasi, Hehe Lagi Belajar
Belajar pelukisan ataU pendeskripsikan ah... kali ini temanya melukiskan situasi di kantor perbankan. Sama sekali tak bermaksud membuka info mengenai detail ruang per ruangnya loh, ntar dikira jadi artikel pra perampokan, hihi Astagfirullah... tujuannya cumauntuk belajar melukiskan. Target suksesnya, sampai pembaca bisa merasakan situasi atau kalau lebih sukses, pembaca merasa menjadi pelaku di dalamnya. Keren tuh kalau bisa begitu. Yuk, dimulai...
...Baru saja aku parkirkan Supra X-ku di pelataran parkir BPD. Cuma area kecil di samping bank. Cukup untuk dua baris tapi sudah mepet. Antara parkiran dengan bank ada jalan untuk mobil karyawan yang mau parkir juga. Tapi khusus di belakang. Area parkirnya ada atapnya. Tapi sederhana. Walau begitu, cukup melindungi dari panas pagi. Kata orang itu panas sehat. Aku sih tetap tak mau panas-panasan. Sumuk!
Tempat teduh sudah jelas ada. Sekarang kuarahkan saja kaki ini ke kursi pos parkir. Sejuk dan bisa nyantai. Aku juga bisa disambi mendengar MP3
lewat headset HP. Terus online deh, bikin entri baru. Duduk rileks cukup tenang juga melihat pemandangan sekitar. Tiga puluh meter dariku ada pos pengamanan. PAM-nya masih bisa berkumpul santai duduk juga. Walau tetap siaga, suasana hangat pagi masih begitu terasa. PAM-nya tidak dingin. Terlihat sedang terjadi obrolan ringan. Jika ada karyawan masuk tidak perduli itu cleaning service pasti saling bersalam-salaman. Tak lupa sungging senyum diperlihatkan. Tidak kaku. Tidak seperti terpaksa sama sekali.
Jam delapan hampir tiba. Tempatku ini kurang cocok untuk mengetahui pintu bank telah terbuka, anda tahu kan kenapa begitu? Aku pindah saja duduk di batas taman persis di dekat PAM duduk-duduk. Masih di samping bank tapi sudah di depan. Bingung? Orang posko itu di sudut kanan depan bank kok, ya bebas saja aku mau ngomong samping bank, boleh, depan bank, tidak ada salahnya, kan? Pintu telah terbuka, jadi aku masuk saja deh, hehehe...
Bagaimana? Sukses tidak, belajar pendeskripsianku? Melukiskan sikon yang begitu saja. Sepertinya masih kurang cukup deh. Inti cerita belum dimasukkan. Jadi greget ceritanya tidak ada. Hambar. Ah, tidak apa-apa, namanya juga belajar. Minimal pembaca sukses merasakan situasi sederhana yang aku tampilkan itu sudah cukup. Eh...? Target lebih ringan begitu apa bisa berhasil kuraih ya? Hehehe
Read more.....
CPNS di BKD Bersamaku
Aku stanbye di sebuah lembaga daerah. Tepatnya di Badan Kepegawaian Daerah. Agak panas di sini. Rimbun daunan kurang membantu. Yang menemaniku sekarang pedagang amplop. Terus ada lagi pedagang contoh soal tes. Majalah soal juga ada. Posisiku di tempat setelah mereka. Pertimbanganku, kalau mereka, yang lain yang datang ke sini sudah belanja buku tes atau mungkin amplop, mereka akan melewatiku. Mungkin sekedar ingin didoakan oleh orang sepertiku. Mereka akan menyedekahiku dengan benar-benar ikhlas. Benar, hari ini pendaftaran CPNS terakhir. Mereka yang datang itu calon pesertanya.
Hari terakhir hari yang ramai. Hari yang sibuk di mana masing-masing orang lebih berebut waktu singkat itu. Kebanyakan jadi kurang teliti. Terdengar dari sebagian yang pulang dengan menggerutu. Mengeluh, sebagian lagi menjadi ladang rejekiku karena mereka meminta didoakan olehku semoga kekeliruan dan ketidak telitian mereka bukan menjadi sandungan demi mendapat secarik kertas peserta tes CPNS kali ini.
Seperti kalian ketahui. Aku Rio. Pengemis tua buta dengan seonggok masalah besar keluarga ningrat di lempitan kerut otakku (baca, "Paginya si Buta"). Tumbuh dari usiran predikat kehormatan. Menjadi satu-satunya yang lahir buta. Tak pernah melihat surya. Andai bisa, ingin coba kutatap sampai buta lagi. Aku Rio, termasuk orang terbuang. Ibu susuhku yang mengajarkanku supaya aku beda dengan yang lain. Padahal aku sudah berbeda, bukan? Aku buta. Apa sih yang dia harapkan dariku? Sudah, malah curhat. Yang penting di sini aku orang yang menderita. Orang bisa memohon padaku untuk meminta-Nya mengabulkan permohonannya.
Aku benar, tidak? Menyandarkan pada, "Doa orang teraniaya lebih bisa didengar-Nya". Sepertinya kok agak aneh ya. Memposisikan diri sebagai yang teraniaya bukankah memalukan? Bahkan untuk yang benar seperti itu. Peduli amat. Mereka, pendaftar CPNS yang memposisikanku begitu. Lalu aku mau menghardik saja? Kurang bijaksana. Akhirnya ya begini saja, yang serius minta didoakan ya aku doakan setelah sebelumnya meluruskan pendapat mereka yang aku tidak seperti mereka pikir. Cuman kalau masalah mendoakan kan bisa saja. Gak perlu yang teraniaya.
Dari itu hari itu aku dapat lebih dari receh. Sekedar meraba uang sudah menjadi keahlianku. Jadi beberapa lembar lima ribuan berhasil kutebak dengan mudah. Alhamdulillah. Sepintas riuh CPNS lengkap dengan suka dukanya. Satu sukaku untuk suka yang lain.
Read more.....
Teman Yang Aneh
Pengemis itu hampir mirip denganku. Matanya buta separo menurut cerita dia saat ngobrol denganku. Butanya gara-gara kesabet pedang sewaktu melewati jalan yang saat itu dia tak tahu ada tawuran. Preman suruhan salah satu kubu menyangka dia seterunya. "Langsung saja aku kena hunusan pedang darinya". Payah, sepertinya terlalu bangga. Tak apalah. Toh tak banyak berarti buatku. Ada satu saja. Temanku bertambah satu lagi.
Tak banyak orang mengira ihwal butanya bakal menjadi gunjingan. Sebagian cuek saja. Yang lain menganggapnya tak tahu malu. Ternyata dia berkoar pada setiap orang. Aku cuma bergumam, "Sepintar-pintarnya tupai meloncat dia akan terjatuh juga". Tak kupikir lebih dalam. Buat apa? Itu urusan orang. Urusanku sudah banyak. Hehe Sekarang aku sekitar ukuran depan dua mobil yang sedang parkir dari jalan masuk ke Mall besar di daerahku, Tegal. Sekali lagi, aku tahu dari obrolan orang lewat. Ini tempat mangkal terbaruku. Yang menuntun Mang Bees. Sebutan akrab khusus dariku untuk si buta separo.
Dia tahunya Bees itu Buta Sabetan, terlihat keren. Tapi tetap untukku, itu Buta Separo. Sebagai penghormatan, beliau menyebutku Batu, Bang Batu, katanya sih, sekeras batu semangatku. Ah, ada-ada saja. Paling-paling dia sudah dengar maksudku, terus dia balik membalas. Buta Wutuh, buta penuh. Haha kami menyikapinya dengan ringan saja. Toh emang begitu keadaan kami.
Bees menuntunku kemari karena yakin di sini lebih ramai. Dia tidak takut kusaingi karena dia percaya, Rejeki Alloh yang ngatur. Mau tempat seramai apa kalau Gusti gak ngasih ya gak bakal turun tuh receh. Cuma aku ditempatkan agak jauh dari lokasi inti. Menurutnya, Mall ini terlarang untuk kaumku. Kalo aku mengemis di depan pintu Mall, tidak bakal nutut kalau maen kucing-kucingan sama PAM Mall.
Wah, perhatian sekali rupanya. Aku turuti saja. Dia juga sempat menitipkanku kepada tukang becak di samping mangkalku kalau ada razia mendadak, tolong agar aku diangkut sebagai penumpangku. Hmm... kalau ini sudah keterlaluan. Ini lebih dari perhatian. Akan aku tanyakan, atau akan diam.
Mentari beranjak pergi. Mestinya Mall lebih ramai dari sebelumnya. Tapi aku mulai letih. Sepertinya bulan putih sudah mengintip mencoba ingatkan magrib selain azannya yang kudengar. Lagipula, Bees sudah menjemputku. Aku akhirnya diam. Mau tanya, tapi tanya apa? Masa aku curiga atas maksud baiknya?
Read more.....
Ditemani Pak Polisi
Oh, sekarang terbalik. Untuk jalan belok kiri bagi pengendara bermotor itu jika tak ada rambu "Kiri Jalan Terus", artinya harus menyesuaikan Trafick Light. Beda dengan dulu. Jika tak ada tanda "menyesuaikan..." artinya pasti jalan terus. Hmm... rupanya itu alasan Pak Polisi mengusirku pagi ini.
Jadwal yang aku ceritakan yang aku stanby di dekat pos polisi, kemarin itu memang cuma hari Jum'at. Tapi aku masih punya tempat
lain, di persimpangan juga. Dan hari ini aku di salah satunya. Aku diusir salah satu opsir kenalanku. "Tolong agak menjauh dulu dari area ini, Pak. Ini mau saya jadikan tempat penyuluhan praktis hal 'belok kiri dan penyalaan lampu kendaraan di siang hari'." Lokasinya di tikungan arah kiri. Di situ temanku berdiri menyetop pengendara yang akan belok kiri langsung saat lampu sedang merah. Lalu diterangkan dengan kilat, hanya sampai lampu hijau mulai menyala.
Masih lebih enak kalau di baris depan setelah batas lampu merah itu motor semua. Jadi ngomong ke satu orang yang lain bisa ikut mendengarkan. Menarik, nguping sebentar, sempat ada tanya jawabnya, lho. Aku agak menjauh dari situ. Tapi tetap saja di tepi trotoar dengan menawarkan gelas seng untuk sekedar meminta keikhlasan yang lewat.
Info dari polisi tadi. Bukan hanya persimpangan ini. Tapi semua simpang paling tidak ada dua polisi. Hehe diseriusi juga untuk yang cuma seperti ini. Apa karena setelah kemarin muncul rekaman kriminalisasi KPK terus mencari nama baik lagi, ya? Ah, maaf Pak Polisi. Hanya bertanya. Setelah aku pikir lagi, benar-benar tak berhubungan kok, penyuluhan ini dengan kasus itu. Dan setelah dipikir-pikir lagi. Aku ingin membantu mereka.
Aku coba unjuk suara saja. Kusiapkan diri. Duduk di tepi trotoar di sisi kiri beberapa meter sebelum simpangan. Duduk dengan telapak kaki di jalan disilangkan seperti mau bersila. Di antara paha kulembarkan kain agar yang ikhlas mau kasih receh tinggal lempar saja ke kain itu. Kepalaku tengadah. Aku ingin lebih ekspresif dan atraktif. Aku buta. Jadi mulut dan tanganku yang pegang peranan. "Informasi! Sekarang belok kiri ikuti lampu merah. Tidak jalan terus, ya. Jadi siapkan rem. Harus berhenti jika lampunya merah". Begitu salah satu yang aku koarkan. Mulut kadang menirukan suara rem. Kadang berlaku mirip yang lagi ngerem. Kulakukan dengan penuh semangat. Semoga bisa membantu temanku itu. Amien...
Read more.....






