Rabu, Maret 17, 2010
17
kumuh, jurang kaya dan miskin terlihat jelas Tetangga sebelahku membeli radio! Hanya bekasan. Boksnya saja sudah banyak selotip. Malah skrupnya pada hilang. Aku tahu dengan merabanya. Kalian tahu, kan? Kalau aku itu buta. Alhamdulillah sudah ikut merasakan radio itu seperti apa.

Haha... orang kayak aku bisa mikir rumit juga. Setelah tahu ada penghibur telinga, indera milikku yang haus info itu, aku langsung berpikiran merombak tatanan gubukku. Tempat tinggal ini masih satu satuan dengan tetangga kanan-kiri. Bukan satu rumah, tapi sekatnya hanya satu, sekat anyam bambu saja, tak berangkap seperti dua rumah yang berimpit. Intinya, suara masih bisa tembus, dan aku bisa ikut menikmati acara radio.

Malam hari. Pertama, repotnya batas rumah empu radio, Adnan, denganku masih di antarakan toiletku. Suaranya jadi teredam. Mesti kupindah. Kolam yang aslinya cuma satu ember sedang, gampang kupindah. Malam bertambah. Agak sulit memindah batas kamar mandi, anyaman juga. cuma dikawat saja, bisa deh. Keduanya... Lah, geser tempat tidurnya? Hmm.. (mulai mikir melambat) sambil rebahan... Bisa! Batas KM dikeluarkan dulu, Geser tempat tidur, baru batasnya kupasang. Bisa deh.

"Ini ke sini, yang itu ke situ. Terus kawat, penguat batasnya, diperbanyak.. darimana bisa kudapat, ah ntar... terus tempat... bla bla bla", gumamanku makin tak karuan, telunjuk coba menunjuk khayalan yang tercipta. Gelapku sedari kecil terlupa. Semua terang.. hanya karena memimpikan kenyamanan mendengar radio di gubuk kumuh ini. Malam kian larut. Aku masih disibukkan dengan agenda pagi besok. Aku mau mencoba sibuk. Namun pikiran mulai menumbuk sesuatu. Itu kamar mandi, saluran gotnya? Yang lama dibuatkan Mas Adnan sendiri untuk gubuknya, aku ikut nimbrung menyabang sedikit. Susah, dari campuran semen! Mikir lebih lama, kepentok lagi, bau got juga bakal lebih menyengat. Malah tambah tak nyaman. Terus buat makan besok? Mau puasa? Cuma bisa kudapat dari mengemis terus mau libur? Otakku makin penuh. Pusing. Akhirnya tertidur.

Paginya, aku langsung saja memohon ke mas Adnan. "Mas, tidak apa-apa radionya diputar lebih keras, aku tak merasa terganggu, malah berterima kasih Mas sudah berbagi."

credit picture: http://exmariomartin.blogspot.com/

17 comments:

  1. Nice post mas..
    ..salam..

    BalasHapus
  2. berbagi itu bisa menghilangkan kesepian..
    orang yang pernah berbagi dan nggak pernah kebagian itu sial....

    salam
    Seiri
    (^__^)

    BalasHapus
  3. tolong matiin radionya, berisik nih :D

    BalasHapus
  4. tanpa teman tanpa tetangga hidup kita tak indah
    dan itulah indahnya berbagi

    BalasHapus
  5. ah, niatnya mo ngasih arti "hidup gak usah dipersulit, cari solusi yang gampang juga masih banyak".... kayaknya gak sukses artikelku kali ini

    BalasHapus
  6. aku juga suka dengerin dengernya radio yang di idupin ma temenku di kantor. yah meskipun kadang lebih sering muter lagu chinese tapi aku senang juga yang penting ada hiburan.
    dan ternyata aku jadi mau menerima lagu2 chinese karena sering di dengar

    BalasHapus
  7. Ini termasuk cerita pendek yah?

    BalasHapus
  8. Cerita yg menarik di seputaran ibukota

    BalasHapus
  9. Ibukota sebuah tempat yang begitu amburadul

    BalasHapus
  10. haii bangun-bangun kok gak ada yang comment ketiduran yaa..

    BalasHapus
  11. Jakarta ibukota yg begitu kumuh dan kotor :(

    BalasHapus
  12. Salah satu masalah negara yg tidak terselesaikan

    BalasHapus
  13. numpang koem y gan..begitulah jakarta..

    BalasHapus
  14. y ... gedung bertingkat ... pejabat kaya ... tpi msih aja ada yg kelaparan

    BalasHapus
  15. wah seru bangettt ceritanya ..

    BalasHapus
  16. cuma pengen nyampein inti cerita ini, "gak perlu repot mikirin harus gini gitu, utarakan saja dan solusi pasti cepat didapat.. daripada mikir terus, capek!"

    kampung kumuh sebagai begron cerita aja, hehehe

    BalasHapus

Alhamdulillah jadi juga satu artikel lagi. Buat yang penasaran pengen komeng. Jangan ke sini. Tapi kalau penasaran pengen komen, yuk mari...

 
//add jQuery library